Haul Syekh Abdul Qadir Al-Jailani ke-854 MASJID BESAR NURUL JAMA'AH Kecamatan Tanah Merah - bualkan.com

Breaking

Minggu, 27 Desember 2020

Haul Syekh Abdul Qadir Al-Jailani ke-854 MASJID BESAR NURUL JAMA'AH Kecamatan Tanah Merah

Bualkan.com - Peringatan Haul Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Syekh Muhammad Nawawi Siddiq Berjan Syekh Muhammad Ali Bin Syekh Abdul Wahhab. . Kamis,  10 Jumadil Awal 1442. H/ 24 Desember 2020. M di MASJID BESAR NURUL JAMA'AH Kecamatan Tanah Merah
Dengan tetap mengikuti Protokol Kesehatan Pakai Masker Cuci Tangan dan Jaga Jarak . Hal itu dilakukan guna mengantisipasi penyebaran virus Corona.
acara Haul turut dihadiri  Pengurus Masjid Besar Nurul Jama'ah Azhar Halwan, M.Pd. Imam Masjid Besar Nurul Jama'ah Achmad Arfan, Drs Alimuddin HS, Arsyad Rasyidin, Humas PT Pulau Sambu Kuala Enok Fitriadi SE, serta Alim Ulama dan tokoh masyarakat,
Tausiyah : AL-HABIB AGIL BIN HUSEIN BSA Jakarta. Qjamullail: Al-Ustadz H. Anwar Ardabili Kuala Tungkal



Sementara Tausiyah yang disampaikan Al AL-HABIB AGIL BIN HUSEIN BSA  menceritakan tentang Mengenal Syekh Abdul Qadir Al Jailani. 
Dalam lembaran sejarah Islam, setiap abad kita akan menemukan tokoh besar yang mendapatkan status mujaddid. Ini sesuai dengan hadis Rasul yang menyatakan bahwa setiap 100 tahun, Allah akan mengirimkan pembaru di kalangan umat Islam.

Ia lahir sebagai anak yatim (di mana ayahnya telah wafat sewaktu beliau masih dalam kandungan enam bulan) di tengah keluarga yang hidup sederhana dan saleh. Ayahnya, al-Imam Sayyid Abi Shalih Musa Zangi Dausat, adalah ulama fuqaha ternama, Mazhab Hambali, dan garis silsilahnya berujung pada Hasan bin Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah SAW.


Sedangkan, ibunya adalah Ummul Khair Fathimah, putri Sayyid Abdullah Sauma'i, seorang sufi terkemuka waktu itu. Dari jalur ini, silsilahnya akan sampai pada Husain bin Ali bin Abi Thalib. Jika silsilah ini diteruskan, akan sampai kepada Nabi Ibrahim melalui kakek Nabi SAW, Abdul Muthalib. Ia termasuk keturunan Rasulullah dari jalur Siti Fatimah binti Muhammad SAW. Karena itu, ia diberi gelar pula dengan nama Sayyid.


Keistimewaan Syekh Abdul Qadir al-Jailani sudah tampak ketika dilahirkan. Konon, ketika mengandung, ibunya sudah berusia 60 tahun. Sebuah usia yang sangat rawan untuk melahirkan. Bahkan, ketika dilahirkan yang bertepatan dengan bulan Ramadhan, Syekh Abdul Qadir al-Jailani tidak mau menyusu sejak terbit fajar hingga Maghrib.

Namun, kebesaran Syekh Abdul Qadir al-Jailani bukan semata-mata karena faktor nasab dan karamahnya. Ia termasuk pemuda yang cerdas, pendiam, berbudi pekerti luhur, jujur, dan berbakti kepada orang tua.


Selain itu, kemasyhuran namanya karena kepandaiannya dalam menguasai berbagai ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang agama. Ia menguasai ilmu fikih dan ushul fikih. Kendati menguasasi Mazhab Hanafi, ia pernah menjadi mufti Mazhab Syafi'i di Baghdad.

Di samping itu, ia juga dikenal sangat alim dan wara. Hal ini berkaitan dengan ajaran sufi yang dipelajarinya. Ia suka tirakat, melakukan riyadhah dan mujahadah melawan hawa nafsu.


Selain penguasaannya dalam bidang ilmu fikih, Syekh Abdul Qadir al-Jailani juga dikenal sebagai peletak dasar ajaran tarekat Qadiriyah. Al-Jailani dikenal juga sebagai orang yang memberikan spirit keagamaan bagi banyak umat. Karena itu, banyak ulama yang menjuluki 'Muhyidin' (penghidup agama) di depan namanya.
Semoga Melalui Tabarruk kepada WaliULLAH.. Bertambah  Keberkahan Iman dan Taqwa serta  trqobul segala hajat..
Aamiin y Robbal A'lamiin..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Culture