Recent Posts

Iklan

kita harus meyakini akan datangnya hari kiamat

Minggu, 28 Juni 2020, Juni 28, 2020 WIB Last Updated 2020-06-28T07:13:15Z
pasang iklan disini
masukkan script iklan disini

Alllah SWT di akhirat kelak. Maka, sebagai seorang Muslim, kita harus meyakini akan datangnya hari kiamat.


Tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT, termasuk menghidupkan kembali manusia sesudah kematian. Sebab Allah SWT yang menciptakan manusia dari sari pati tanah, kemudian diberi tulang-tulang, sehingga membentuk manusia. Lebih jelasnya, dalam surat ini diterangkan bahwasanya manusia diciptakan dari setetes mani, kemudian menjadi segumpal darah, lalu segumpal daging yang sempurna, dan ditempatkan dalam rahim seorang perempuan.


Selanjutnya, dikeluarkan menjadi seorang bayi. Hal ini menunjukkan bahwasanya tidak ada kesukaran bagi Allah SWT dalam menciptakan manusia dan tidak ada pula kesukaran bagi Allah SWT dalam membangkitkan kembali manusia setelah kematian.


Adapun hikmah dari ayat tersebut diantaranya adalah:
Sebagai Muslim kita harus meyakini bahwa hari kiamat itu benar-benar ada, dan Allah SWT berkuasa dalam segala sesuatu.


Meyakini bahwa tidak ada suatupun kesukaran bagi Allah SWT.


 Allah SWT mampu menciptakan manusia (menghidupkan sesuatu dari benda yang mati) dan mampu mematikan manusia (menjadikan sesuatu yang hidup menjadi mati), serta mampu pula mambangkitkan manusia setelah kematian (menghidupkan kembali sesuatu yang telah mati).


Setiap perbuatan di alam dunia ini kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Oleh karena itu, sebagai seorang Muslim kita harus berhati-hati terhadap perilaku yang kita lakukan.


Tidak ada alasan bagi manusia untuk menyombongkan dirinya, sebab manusia pada hakikatnya berasal dari nuthfah (setetes mani), yang merupakan sesuatu yang menjijikkan. Jadi, tidak ada alasan bagi manusia untuk menyombongkan dirinya.


Menurut Buya Hamka dalam tafsirnya Al-Azhar bahwa ayat tersebut memberikan sebuah seruan disampaikan kepada seluruh manusia, karena yang akan diserukan ini adalah dasar untuk berpikir, untuk meyakini dua hal yang jadi pegangan hidup. Pertama percaya akan adanya  Allah SWT.


Kedua dari hal kebangkitan kembali sesudah mati. “jika kamu masih keraguan dari hal kebangkitan” yaitu bahwa sesudah manusia mati akan datang masanya bahwa manusia itu dibangkitkan kembali. 


Oleh sebab itu, bahwa di dalam proses manusia mengembangkan potensinya dilakukan melalui pendidikan.


 Proses ini dimulai sejak manusia lahir dapat dilihat dilihat ketika awal menyesui sampai perkembangannya mengalami kevakuman, yaitu dengan adanya kematian.


Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa Buya Hamka menjelaskan kata Ta’lim sebagai proses pendidikan dan bukan pada hakikat pendidikan, padahal wacana pendidikan Islam bukan hanya sebatas proses, akan tetapi meliputi materi serta nilai yang ada di dalamnya, aspek penekanan yang diinginkan, pendidik, peserta didik, lingkungan di mana pendidikan dilaksanakan, dan tujuan yang ingin di capai.


Hamka memberikan penjelasan mengenai pendidikan Islam yaitu merujuk pada kata Ta’lim yang memberikan pengertian bahwa di dalam memberikan pengajaran maupun di dalam mentranfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik yaitu harus berlandaskan kepada Al-Qur’an dan Al-Hadist serta semua itu memiliki niat karena Allah SWT. 


Selanjutnya di dalam memberikan pengajaran harus dilakukan secara terus menerus, agar ilmu yang disampaikan benar-benar tertanam di dalam dirinya serta sejalan dengan tingkah lakunya, yang bertujuan agar ada keseimbangan antara kebahagian di dunia dan di akhirat.


Kata Tarbiyah
Dalam konteks ini pendidikan Islam juga merujuk kepada kata Tarbiyah yang berarti mengasuh, bertanggung jawab, memberi makan, mengembangkan, memelihara, membesarkan, menumbuhkan, memproduksi, menjinakkannya, baik yang mencakup aspek jasmaniah maupun rohaniah.


Hal itu merujuk kepada ayat Al-Qur’an surah As-Isra ayat 24 yang berbunyi:
(((((((((( ((((((( ((((((( (((((((( (((( ((((((((((( ((((( ((((( ((((((((((((( ((((( (((((((((( (((((((( ((((   (الاسراء : ٢٤) 
Artinya: Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil" (Q.S. As-Isra Ayat 24).



Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk menyembah Allah SWT Semata tidak ada sekutu bagi-Nya. Kandungan ayat ini juga menunjukkan betapa kaum muslimin memiliki kedudukan yang sangat tinggi dibanding dengan kaum yang mempersekutukan Allah SWT.


Ayat ini juga menjelaskan tentang iḥsan (bakti) kepada orang tua yang diperintahkan Agama Islam adalah bersikap sopan kepada keduanya dalam ucapan dan perbuatan sesuai dengan adat kebiasaan masyarakat, sehingga mereka merasa senang terhadap kita, serta mencukupi kebutuhan-kebutuhan mereka yang sah dan wajar sesuai kemampuan kita.


Menurut Tafsir Al-Azhar maksud ayat tersebut bahwa seseorang atau sebagai anak, merasa dirimu telah jadi orang besar, jadikan dirimu kecil dihadapan ayah dan ibumu.

 Apabila dengan tanda-tanda pangkat dan pangkat kebesaran seorang anak datang mencium kedua orantua, niscaya air mata keterharuan akan berlinang di pipi mereka tidak dengan disadari. Itu sebabnya maka di dalam ayat ditekankan Minar-Rahmati, karena sayang, karena kasih mesra yang datang dari lubuk hati yang tulus dan ikhlas.


Dengan demikian maksud ayat tersebut merupakan satu kesatuan yang membedakan satu dengan yang lain. Karakter adalah kekuatan moral yang memiliki sinonim berupa moral, budi pekerti, adab, sopan santun dan akhlak. Akhlak dan adab sumbernya adalah wahyu yakni berupa Al-Qur’an dan Sunah. Sedangkan budi pekerti, moral, dan sopan santun sumbernya adalah filsafat.


Penulis memberikan kesimpulan dari analisis pemikiran Buya Hamka tentang konsep pendidikan Islam adalah sarana untuk mendidik watak pribadi dan kelahiran manusia di dunia ini tak hanya untuk mengenal apa yang dimaksud dengan baik dan buruk. 


Tapi juga, selain beribadah kepada    Allah SWT, juga berguna bagi sesama dan alam lingkungannya, karena itu bagaimanapun kehebatan sistwm pendidikan modern, menurut penulis, tak bisa dilepas begitu saja tanpa diimbangi dengan pendidikan agama. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang dapat mengintegralkan potensi fitrah-Nya yang tinggi dengan potensi akal pikiran.


 Selama kedua orang tua menanamkan di dalam diri anak nilai-nilai ajaran Islam di dalam membentuk kepribadian, watak maupun karakter anak yang berlandaskan dari Al-Qur’an dan Al-Hadits, maka niscaya anak akan menjadi pribadi yang baik serta memiliki pembeteng ketika anak sukses atau berhasil dikemudian hari.


Selanjunya juga merujuk kepada ayat      Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 276 yang berbunyi:
(((((((( (((( (((((((((((( ((((((((( (((((((((((( ( (((((( (( (((((( (((( ((((((( ((((((( (((((   (البقرة : ٢٧٦)

Artinya: Allah SWT memusnahkan Riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah SWT tidak menyukai Setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.(Q.S.Al-Baqarah Ayat 276).


Asbabun Nuzul ayat di atas di mana Kaum Tsaqif, penduduk kota Thaif telah membuat kesepakatan dengan Rasulullah SAW bahwa semua hutang mereka demikian juga piutang        (tagihan) yang berdasarkan riba agar dibekukan dan dikembalikan hanya pokoknya saja. Setelah Fathu Makkah, Rasulullah SAW menunjuk ‘Itab ibn Usaid sebagai gubernur Makkah yang juga meliputi kawasan Thaif. 


Bani Amr ibn Umar adalah orang yang biasa meminjamkan uang secara riba kepada Bani Mughirah sejak zaman jahiliyah dan Bani Mughiroh senantiasa membayarkannya.
Setelah kedatangan Islam, mereka memiliki kekayaan yang banyak. Karenanya, datanglah Bani Amer untuk menagih hutang dengan tambahan riba, tetapi Bani Mughirah menolak. 


Maka diangkatlah masalah itu kepada Gubernur ‘Itab ibn Usaid dan beliau menulis kepada Rasulullah SAW. 


Maka turunlah ayat ini. Rasulullah Saw lalu menulis surat balasan yang isinya “Jika mereka ridha atas ketentuan Allah SWT diatas maka itu baik, tetapi jika mereka menolaknya maka kumandangkanlah ultimatum perang kepada mereka”


Allah SWT memberitahukan bahwa Dia menghapuskan riba, baik menghilangkannya secara keseluruhan dan tangan pelakunya maupun mengharamkan keberkahan hartanya, sehingga ia tidak dapat mengambil manfaat darinya, bahkan Dia melenyapkan hasil riba itu di dunia dan memberikan hukuman kelak pada hari kiamat.  

(Allah SWT menghancurkan riba) dengan menguranginya dan melenyapkan berkahnya (dan menyuburkan sedekah), maksudnya menambah dan mengembangkannya serta melipatgandakan pahalanya. 


(Dan Allah SWT tidak menyukai setiap orang yang ingkar) yang menghalalkan riba (lagi banyak dosa), artinya yang durhaka dengan memakan riba itu hingga akan menerima hukuman-Nya. Menurut Buya Hamka dalam tafsirnya Al-Azhar bahwa riba mesti dikikis habis sebab itu pangkal dari kejahatan musyrik, kejahatan hidup. Asal diri beruntung biar orang lain  melarat. 


Dengan ini ditegaskan bahwa berkah dari riba itu tidak ada. Itulah kekayaan yang membawa sial, membawa dendam dan kebencian.


 Sudah diterangkan manfaat masyarakat bersedekah bantu membantu dan diterangkan pula celaka masyarakat yang orang kaya pun hidup dari makan riba. 


Kalau masih juga timbul makan riba di dalam masyarakat, maka nyatalah orang pemakan riba itu sudah sangat ingkar, sangat menolak kebenaran, tidak peduli dengan peraturan Allah SWT yang tidak mempunyai belas kasihan kepada sesama manusia, akan berlarut-larut mereka dalam dosa. Kalau Allah SWT telah menjelaskan bahwa Dia tidak suka kepada orang yang demikian, itu adalah ancaman bahaya yang akan menimpa mereka. 


Bahaya kacaunya masyarakat dan suburnya rasa dendam serta benci. Orang kaya akan menjadi timbunan benci dan dendam dari orang yang miskin. Maka jelaslah menurut Hamka penekanannya dalam memahami makna memelihara, dalam kata Tarbiyah sebagai perbuatan pemeliharaan yang dilakukan kedua orang tua terhadap anaknya. Proses ini dilakukan dengan sabar dan penuh kasih sayang, guna membantu anak dari ketidakberdayaan sampai anak mampu mendiri baik secara fisik maupun secara fsikis. 


Untuk mewujudkan hal tersebut maka anak perlu dibekali pemahaman tentang nilai-nilai ajaran Islam, melalui pendidikan hal itu bisa terwujud, yang menjadi bekal maupun pembenteng bagi anak di dalam menjalani kehidupannya di masa akan datang, yang bertujuan agar anak terhindar dari hal-hal yang akan merusak dirinya maupun orang lain.


Selanjutnya penggunaan kata rabb atau Tarbiyah mengacu kepada ayat Al-Qur’an surah   At-Taubah ayat 129 yang berbunyi:
((((( (((((((((( (((((( (((((((( (((( (( ((((((( (((( (((( ( (((((((( (((((((((( ( (((((( (((( (((((((((( ((((((((((( (((((   (التوبة : ١٢٩)
Artinya: Jika mereka berpaling (dari keimanan), Maka Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung".(Q.S At-Taubah Ayat 129).


Aku diutus dengan membawa agama Islam yang hanif lagi penuh dengan toleransi. Di dalam hadis sahih disebutkan:
“إِنَّ هَذَا الدِّينَ يُسْرٌ” وَشَرِيعَتَهُ كُلَّهَا سَهْلَةٌ سَمْحَةٌ كَامِلَةٌ، يَسِيرَةٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهَا اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ.
Artinya: Sesungguhnya agama ini mudah, semua syariatnya mudah, penuh dengan toleransi lagi sempurna. Ia mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah SWT dalam mengerjakannya.


Maka apabila kaum musyrikin dan orang-orang munafik tetap berpaling dari keimanan kepada mu (wahai rasul), maka katakanlah kepada mereka, ”cukuplah Allah SWT bagiku, Dia akan memenuhi apa yang menjadi cita-citaku, tiada tuhan yang berhak di sembah kecuali Dia, kepada-Nya aku bergantung. Dan kepada-Nya aku serahkan seluruh urusanku, sesungguhnya Dia penolong dan yang akan membantuku. Dia Robb pemilik arsy yang agung yang merupakan makhluk yang paling besar.” (Tafsir al-Muyassar).


Menurut Buya Hamka dalam tafsirnya Al-Azhar maksud ayat tersebut bahwa “Wahai Muhammad” meskipun sudah demikian kasih sayangmu kepada mereka itu, kalau masih ada juga yang berpaling yang menyambut cintamu dengan kebencian, laksana bertepuk sebelah tangan, janganlah engkau pedulikan itu. 

Sebab benci manusia dan sikap mereka yang tidak berbalas budi, tidak akan mempengaruhi jalan perjuanganmu. Katakanlah bahwa bagiku, orang sayang atau benci, orang menerima atau menolak, tidaklah akan dapat menggesar pendirianku. Sebab bagiku Allah SWT sudah cukup tempat akau berlindung, walaupun ada manusia yang berpaling dari seruanku, belas kasihanku mereka sambut dengan kebencian, namun bagiku kasih sayang Allah SWT kepadaku, cukuplah dari segala apapun yang ada di dunia ini. Sebab “Tidak ada Allah melainkan Dia” Aku tidak menyembah yang lain, melainkan menyembah Allah SWT. 


Aku tidak mengharapkan apa-apa dari yang lain, yang aku harapkan hanyalah ridha  Allah SWT. Akupun tidak takut kepada siapa, sebab tempat aku takut hanya kepada Allah SWT, ”Kepada-Nyalah aku bertawakal” menyerah diri. 


Menurut Buya Hamka di dalam menafsir penjelasan ayat tersebut bahwa kata Tarbiyah juga diartikan sebagai pemilahara dan pelindung. Pemeliharaan tersebut mencakup pada pemeliharaan semua ciptaan Allah SWT yang ada dimuka bumi, tanpa terkecuali sesama manusia. Penekanannya lebih memuat pesan nilai akhlak, baik secara vertikal maupun horizontal. Hal ini dapat dilihat ketika Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW untuk menanyakan kaum kafir setelah mereka memikirkan dan merenungkan tentang zat yang memelihara alam semesta. 


Jawabannya jelas bahwa semua itu diciptakan dan dipelihara oleh     Allah SWT.
Dari penjelasan di atas dalam memposisikan pendidikan sebagai proses, Buya Hamka cenderung menggunakan kata Ta’lim. Sementara dalam melihat pendidikan sebagai transmisi nilai dan misi tertentu, Buya Hamka kelihatannya lebih cenderung menggunakan kata Tarbiyah. Pendekatan yang dilakukan kelihatannya sebagai upaya mengintegralkan makna kadua kata tersebut dalam sebuah kerangka berfikir yang harmonis. 


Pendekatan yang dilakukannya merupakan bentuk ke hati-hatiannya dalam menafsirkan ajaran Islam, sekaligus sebagai upaya yang cukup bijaksana. Di mana terkesan tidak ingin terjebak dalam perdebatan makna kata, akan tetapi lebih menekankan pada esensi yang dikandung oleh kata tersebut. Persoalan ini dapat dimaklumi karena kedua kata tersebut sama-sama disinyalir dalam Al-Qur’an dan mengandung sisi-sisi pendidikan. Hanya saja yang membedakan keduanya adalah pada perbedaan penekanan.


Hal serupa juga merujuk kepada ayat      Al-Qur’an surah Ar-Rad ayat 16 yang berbunyi:
(((( ((( (((( ((((((((((((( (((((((((( (((( (((( ( (((( ((((((((((((((( (((( ((((((((( (((((((((((( (( ((((((((((( ((((((((((( ((((((( (((( ((((( ( (((( (((( ((((((((( (((((((((( ((((((((((((( (((( (((( ((((((((( (((((((((((( (((((((((( ( (((( ((((((((( (( (((((((((( ((((((((( ((((((((((( ((((((((((( (((((((((( (((((((((( ( (((( (((( ((((((( ((((( (((((( (((((( ((((((((((( (((((((((((  (((((الرعد : ١٦)  

   
Artinya: Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" Jawabnya: "Allah SWT". Katakanlah: "Maka Patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah SWT, Padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?". Katakanlah: "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; Apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi  Allah SWT yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?" Katakanlah: "Allah SWT adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan yang Maha Esa lagi Maha Perkasa".          (Q.S. Ar-Rad Ayat 16).



Allah SWT menetapkan, bahwa tidak ada Allah yang haq selain diri-Nya karena mereka mengakui bahwa Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi, dan Allah-lah Pemilik, Penguasa dan Pengaturnya. Tetapi walau demikian mereka masih tetap menjadikan pelindung-pelindung dari selain Allah yang mereka sembah, sedangkan sesembahan itu tidak memiliki manfaat dan mudlarat bagi diri mereka sendiri, apalagi bagi penyembah-penyembahnya. 


Maksudnya, tidak dapat memberi manfaat bagi mereka atau menolak bahaya untuk mereka. Apakah sama orang yang menyembah sesembahan seperti bersamaan dengan menyembah Allah SWT, dan orang yang hanya menyembah    Allah SWT saja, tiada sekutu bagi-Nya, sedang orang itu berjalan di atas cahaya dari Rabbnya? Maksudnya, apakah orang-orang musyrik itu menjadikan bersama Allah SWT sembahan-sembahan yang menandingi dan menyamai Allah SWT dalam ciptaan-Nya, sehingga ciptaan-ciptaan itu menjadi serupa dan mereka tidak dapat membeda-bedakannya antara ciptaan Allah SWT dan ciptaan selain-Nya. Kenyataannya tidaklah demikian, karena tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Allah SWT, atau menyamai-Nya, dan tidak ada sekutu bagi-Nya, atau sederajat dengan-Nya.


Mencermati penjelasan di atas, tanpa menyampingkan berbagai pendekatan tentang kata mana yang lebih mewakili dalam memaknai pengertian pendidikan Islam, akan tetapi untuk lebih menyederhanakan persoalan. Di mana lebih cenderung kepada kata Tarbiyah di mana merujuk kepada proses pemeliharaan dan pengembangan seluruh potensi (fitrah) peserta didik, baik jasmani maupun rohani. Misi pendidikan Islam menitikberatkan pada tujuan penghambaan dan khalifahan manusia, yaitu hubungan pemeliharaan manusia terhadap makhluk Allah SWT lainnya sebagai perwujudan tanggung jawabnya sebagai khalifah di muka bumi, serta hubungan timbal balik antara manusia dengan alam sekitarnya secara harmonis.


Selanjutnya kata Tarbiyah juga diartikan sebagai berikut:
Menjaga dan memelihara pertumbuhan fitrah (potensi) peserta didik untuk mencapai kedewasaan.


Mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya, dengan berbagai sarana pendukung (terutama bagi akal dan budinya).
Mengarahkan seluruh potensi yang dimiliki peserta didik menuju kebaikan dan kesempurnaan seoptimal mungkin.


Kesemua proses tersebut kemudian dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan irama perkembangan diri peserta didik.
Menurut Buya Hamka jika dilihat dari sudut Terminologi bahwa pendidikan Islam berarti pendidikan dan pengajaran. 

Dalam konteks ini pendidikan Islam merupakan sebuah serangkaian upaya yang dilakukan pendidik untuk mambantu membentuk watak, budi, akhlak, dan kepribadian peserta didik, sehingga peserta didik tahu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Sedangkan dari pengajaran Islam yaitu sebuah upaya untuk mengisi intelektual peserta didik dengan sejumlah ilmu pengetahuan. 

Dalam mendefinisikan pendidikan dan pengajaran, hanya membedakan makna pengajaran dan pendidikan pada pengertian kata. Akan tetapi secara esensial ia tidak membedakannya.


Setiap proses pendidikan di dalamnya terdapat proses pengajaran. Keduanya saling melengkapi antara satu dengan yang lain, dalam rangka mencapai tujuan yang sama. tujuan dan misi pendidikan akan tercapai melalui proses pengajaran. 


Demikian pula sebaliknya, proses pengajaran tidak akan banyak berarti bila tidak dibarengi dengan proses pendidikan, sehingga manusia akan memperoleh kemulian hidup baik di dunia maupun di akhirat.


Secara inheren pendidikan merupakan proses penanaman nilai-nilai kebebasan dan kemerdekaan peserta didik untuk menyatakan pikiran serta mengembangkan totalitas dirinya. Dengan kata lain pendidikan Islam merupakan proses transmisi ajaran Islam dari generasi ke generasi berikutnya. 


Proses tersebut melibatkan tidak saja aspek kognitif (pengetahuan tentang ajaran Islam), tetapi juga aspek afektif dan psikomotorik (menyangkut bagaimana sikap dan pengamalan ajaran Islam secara kaffah).


Oleh sebab itu konsep pendidikan Islam juga merujuk kepada kata Tarbiyah yang identik tertuju kepada pendidik di dalam memberikan pengajaran kepada peserta didik agar memiliki perilaku yang sopan santun baik dari segi bertutur kata maupun dari segi tingkah lakunya, sehingga anak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, serta memiliki pembenteng agar anak terhindar dari hal-hal yang akan merusak dirinya sendiri maupun orang lain.


Analisis Pemikiran Buya Hamka Mengenai Pendidikan Islam.
Menurut Buya Hamka Pendidikan Islam merupakan proses transmisi ajaran Islam dari generasi ke generasi berikutnya.

 Proses tersebut melibatkan tidak saja aspek kognitif (pengetahuan tentang ajaran Islam), tetapi juga aspek afektif dan psikomotorik (menyangkut bagaimana sikap dan pengamalan ajaran Islam secara Kaffah). 


Hal itu di dasarkan dengan tujuan pendidikan Islam adalah mengenal dan mencari keridhaan Allah SWT, membangun budi pekerti untuk berakhlak mulia, serta mempersiapkan peserta didik untuk hidup secara layak dan berguna ditengah-tengah komunitas sosialnya.


Selain itu, Menurut Buya Hamka jika dilihat dari sudut Terminologi bahwa pendidikan Islam berarti pendidikan dan pengajaran. Dalam konteks ini pendidikan Islam merupakan sebuah serangkaian upaya yang dilakukan pendidik untuk mambantu membentuk watak, budi, akhlak, dan kepribadian peserta didik, sehingga peserta didik tahu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. 


Sedangkan dari pengajaran Islam yaitu sebuah upaya untuk mengisi intelektual peserta didik dengan sejumlah ilmu pengetahuan. Dalam mendefinisikan pendidikan dan pengajaran, hanya membedakan makna pengajaran dan pendidikan pada pengertian kata. Akan tetapi secara esensial ia tidak membedakannya. 


Setiap proses pendidikan di dalamnya terdapat proses pengajaran. Keduanya saling melengkapi antara satu dengan yang lain, dalam rangka mencapai tujuan yang sama. tujuan dan misi pendidikan akan tercapai melalui proses pengajaran. Demikian pula sebaliknya, proses pengajaran tidak akan banyak berarti bila tidak dibarengi dengan proses pendidikan, sehingga manusia akan memperoleh kemulian hidup baik di dunia maupun di akhirat.


Selajutnya di dalam menafsirkan pendidikan Islam, dapat penulis simpulkan hanya dua istilah saja, yaitu sebagai berikut:
Kata Ta’lim yang berarti pendidikan Islam merupakan proses pentransferan seperangkat pengetahuan yang diaugerahkan Allah SWT kepada manusia (Nabi Adam A.S), dengan kekuatan yang dimilikinya, baik kekuatan pancaindra maupun akal, manusia dituntut untuk menguasai yang ditransfer. 


Kekuatan tersebut berkembang secara bertahap dari yang sederhana ke arah yang lebih baik. Dengan kekuatan ini pula manusia dapat melaksanakan fungsinya sebagai pemegang amanat Allah SWT, sekaligus membongkar rahasia alam bagi kemaslahatan seluruh alam semesta


Oleh sebab itu, pendidikan Islam adalah sebuah pengajaran dalam upaya mendidik seseorang dengan berlandaskan nilai-nilai pendidikan Islam melaui sumber Al-Qur,an dan Al-hadisť agar seseorang tersebut menjadi lebih baik serta apa yang didapatkan berguna baik untuk keselamatan di dunia maupun di akhirat kelak. sasaran dari pendidikan Islam itu adalah tidak terbatas tetapi tertuju untuk semua manusia, selama manusia itu memiliki keinginan untuk menuntut ilmu maka tidak ada larangan, namun semua itu kembali kepada manusianya lagi, apakah siap untuk menerima perubahan atau hanya pasrah dengan keadaan, karena keadaan tidak akan berubah jika manusia itu tidak ada keinginan untuk merubahnya. 


Untuk itu, agar anak memiliki kepribadian muslim, maka sebaiknya orangtua memberikan Pendidikan agama sejak masa kanak-kanak serta menanamkan nilai-nilai ajaran Islam di dalam diri anak dengan cara menjadi teladan yang baik baginya, dengan tujuan agar anak terbiasa berperilaku yang baik ketika dewasa nanti.


kata Tarbiyah yang berarti mengasuh, bertanggung jawab, memberi makan, mengembangkan, memelihara, membesarkan, menumbuhkan, memproduksi, menjinakkannya, baik yang mencakup aspek jasmaniah maupun rohaniah. Sedangkan secara terminologi bahwa pendidikan Islam berarti pendidikan dan pengajaran. Dalam konteks ini pendidikan Islam merupakan sebuah serangkaian upaya yang dilakukan pendidik untuk mambantu membentuk watak, budi, akhlak, dan kepribadian peserta didik, sehingga peserta didik tahu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.


 Sedangkan dari pengajaran Islam yaitu sebuah upaya untuk mengisi intelektual peserta didik dengan sejumlah ilmu pengetahuan. Dalam mendefinisikan pendidikan dan pengajaran, hanya membedakan makna pengajaran dan pendidikan pada pengertian kata. Akan tetapi secara esensial ia tidak membedakannya. Setiap proses pendidikan di dalamnya terdapat proses pengajaran. 

Keduanya saling melengkapi antara satu dengan yang lain, dalam rangka mencapai tujuan yang sama. tujuan dan misi pendidikan akan tercapai melalui proses pengajaran. Demikian pula sebaliknya, proses pengajaran tidak akan banyak berarti bila tidak dibarengi dengan proses pendidikan, sehingga manusia akan memperoleh kemulian hidup baik di dunia maupun di akhirat.


BAB V
PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan bab sebelumnya, maka dapat penulis simpulkan bahwa Konsep Pendidikan Islam (Analisis Pemikiran Buya Hamka). Di mana Pendidikan Islam merupakan pendidikan dan pengajaran. Dalam konteks ini pendidikan Islam merupakan sebuah serangkaian upaya yang dilakukan pendidik untuk mambantu membentuk watak, budi, akhlak, dan kepribadian peserta didik, sehingga peserta didik tahu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Sedangkan dari pengajaran Islam yaitu sebuah upaya untuk mengisi intelektual peserta didik dengan sejumlah ilmu pengetahuan. 


Selajutnya di dalam menafsirkan pendidikan Islam, penulis simpulkan dengan hanya dua istilah saja, yaitu sebagai berikut:
Kata Ta’lim yang berarti pendidikan Islam merupakan proses pentransferan seperangkat pengetahuan yang diaugerahkan Allah SWT kepada manusia (Nabi Adam A.S), dengan kekuatan yang dimilikinya, baik kekuatan pancaindra maupun akal, manusia dituntut untuk menguasai yang ditransfer. Kekuatan tersebut berkembang secara bertahap dari yang sederhana ke arah yang lebih baik.


kata Tarbiyah yang berarti mengasuh, bertanggung jawab, memberi makan, mengembangkan, memelihara, membesarkan, menumbuhkan, memproduksi, menjinakkannya, baik yang mencakup aspek jasmaniah maupun rohaniah.


Saran-Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis mengajukan saran-saran diantaranya:
Kepada orangtua, sebaiknya memberikan pendidikan Islam yaitu di mulai ketika anak di dalam kandungan, serta memperhatikan sikap, perilaku anak ketika sudah menginjak dewasa, maka tanggung jawab tidak pernah berhenti meski ketika anak sudah dewasa.


Kepada guru hendaknya di dalam memberikan pengajaran atau menerapkan nilai-nilai ajaran Islam, serta mengenai pendidikan Islam kepada siswa, maka harus mengacu kepada Al-Qur’an,   Al-Hadits serta Ijtihad. Oleh sebab itu, guru harus memberikan keseimbangan di dalam memberikan pengajaran kepada siswa, agar ilmu yang diberikan tidak hanya untuk perbaikan pikiran saja.


Untuk penulis, mudah-mudahan skripsi ini bisa bermanfaat untuk masa akan datang terutama ketika peneliti menjadi orang tua maupun guru yang memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.


DAFTAR PUSTAKA


Abdul Majid, (2012), Belajar dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya.


Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, (2008), Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media Group.


Abuddin Nata, (2002), Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada.


Abudin Nata, (2003), Kapita Selekta Pendidikan Islam, Bandung: Angkasa Bandung.


Ahmad Tafsir, (2008), Ilmu Pendidikan Dalam Persfektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya.


Ahmad Tafsir, (2012), Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Ali Abdul Halim Mahmud, (2004), Akhlak Mulia di Terjemahkan Oleh Abdul Hayyie al-Kattani, Jakarta: Gema Insani Press.


Amir Syarifuddin, (2008), Ushul Fiqh, Jakarta: Kencana.


Anas Salahudin, Irwanto Alkrienciehie, (2013), Pendidikan Karakter (Pendidikan Berbasis Agama dan Budaya Bangsa, Bandung: Pustaka Setia.


Armizi, (2015), Teknik Pembelajaran Qur’an Hadits, Jambi: Salim Media Indonesia.


Barnawi dan M. Arifin, (2012), Manajemen Sarana & Prasarana Sekolah, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.


Departemen Agama, (2009), Al-Qur’an dan Terjemahnya, Bandung: Sigma Iksa Media.


Dessy Anwar, (2003), Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Terbaru, Surabaya: Amelia.


E. Mulyasa, (2015), Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, Bandung: Remaja Rosdakarya.


Hamdani Ihsan, Fuad Ihsan, (1998), Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia.


Hamka, (2015), Tafsir Al-Azhar, Juz 11, Jakarta: Gema Insani.


Hamka, (2015), Tafsir Al-Azhar, Juz 14, Jakarta: Gema Insani.


Hamka, (2015), Tafsir Al-Azhar, Juz 15, (Jakarta: Gema Insani.


Hamka, (2015), Tafsir Al-Azhar, Juz 17, Jakarta: Gema Insani. 


Hamka, (2015), Tafsir Al-Azhar, Juz 3, Jakarta: Gema Insani.


Hamka, (2015), Filsafah Hidup, Jakarta: Republika.

Hamka, (2015), Lembaga Hidup, Jakarta: Republika.

Hamka, (2018), Pelajaran Agama Islam, Jakarta: Republika.

Hamka, (1983), Studi Islam, Jakarta: Pustaka Panjimas.

Hamka, (2015), Tasawuf Modern, Jakarta: Republika.

Hamka, (2015), Tasawuf Modern, Jakarta: Republika.

Imam Bawani, (1987), Segi-Segi Pendidikan Islam, Surabaya: Al-Ikhlas.

Kementerian Agama RI, (2011), Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid IX, Jakarta: Widya Cahaya.

Khairon Rosyadi, (2004), Pendidikan Profetik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Lexy J. Moleong, (2013), Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mahmud, (2011), Pemikiran Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia.

Mansur, (2004), Mendidik Anak Sejak Dalam Kandungan, Yogyakarta: Mitra Pustaka.

Muhammad Hatta, (2010), Pendidikan Dalam Perspektif Al-Ghazali, Jambi: Sulthan Thaha Press IAIN STS Jambi.

Muhammad Nasib Ar-Rifai, (1992), Kemudahan dari Allah: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir di Terjemahkan oleh Syihabuddin, Jilid 7, Surabaya: Bina Ilmu.

Nur Uhbiyati, (2008), Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Mulia.

Rahman Ritongga, (2005), Akidah (Merakit hubungan manusia dengan khlmiknya melalui pendidikan akidah anak usia dini), Surabaya, Amelia Surabaya.

Ramayulis dan Samsul Nizar, (2009), Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya, Jakarta: Kalam Mulia.

Sama’un Bakry, (2005), Menggagas Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Bani Quraisy.

Samsul Nizar, (2008), Memperbincangkan Dinamika Intelektual Dan Pemikiran Hamka Tentang Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Sayyid Quthb, (2001), Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Di bawah Naungan Al-Qur’an Jilid 10 di Terjemahkan Oleh As’ad Yasin, dkk, Jakarta: Gema Insani Press.

Sudiyono, (2009), Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Rineka Cipta.

Sutrisno Hadi, (1987), Metode Research I Yogyakarta: Andi Offset.

Syamsu Yusuf, (2012), Psikologi Perkembangan Anak dan remaja, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Zakiah Daradjat, (1995), Pendidikan Islam Dalam Keluarga dan Sekolah, Jakarta: Rahuma

Zakiah Daradjat, (2008), Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Bumi Aksara.

Zakiah Daradjat, (2012), Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara.

Zuharini, (2008), Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Komentar

Tampilkan

Terkini